Laporan Praktikum Pembuatan dan Evaluasi Sediaan Apus Vagina Mencit
Kegiatan
Praktikum I
PEMBUATAN
DAN EVALUASI SEDIAAN APUS VAGINA MENCIT
Hari : Kamis
Tanggal
:13 September 2018
![]() |
Nama : Ahnisa
Mustadhafina
NIM : B1A017144
Rombongan : VIII
Kelompok : 2
Asisten : Siti Munawaroh
NIM : B1A017144
Rombongan : VIII
Kelompok : 2
Asisten : Siti Munawaroh
LABORATORIUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN
FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2018
I.
PENDAHULUAN
A.
Tujuan
Tujuan
praktikum pembuatan dan evaluasi sediaan apus vagina adalah dapat melakukan
prosedur pembuatan preparat apus vagina, mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam
preparat tersebut, dan menentukan fase estrus pada hewan uji.
B.
Manfaat
Manfaat praktikum pembuatan dan evaluasi sediaan apus vagina adalah
agar dapat mengetahui perkembangan embrional pada hewan mamalia sehingga umur
embrio dapat diketahui secara tepat.
II.
MATERI DAN CARA KERJA
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum
pembuatan dan evaluasi sediaan apus vagina mencit adalah cotton bud, larutan
NaCl 0,9%, larutan alkohol 70%, pewarna methylen blue 1%, akuades, gelas objek
beserta penutupnya dan mikroskop cahaya.
Bahan-bahan
yang diperlukan dalam praktikum pembuatan dan evaluasi sediaan apus vagina
mencit adalah mencit betina matang kelamin yang sedang tidak hamil.
B. Prosedur
Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan
dalam praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1.
Mencit
betina yang akan diperiksa dipegang dengan tangan kanan dengn cara
melentangkannya di atas telapak tangan dan tengkuk dijepit oleh ibu jari dan
telunjuk. Ekor dijepit diantara telapak tangan dan jari kelingking.
2.
Ujung
cotton bud dibasahi dengan larutan NaCl 0,9%, kemudian dimasukkan secara
perlahan ke dalam vagina mencit sedalam 5 mm dan diputar searah hingga tiga
kali.
3.
Gelas
objek dibersihkan dengan alcohol 70% dan dikering anginkan. Ujung cotton bud
yang sudah dioleskan pada vagina trsebut dioleskan memanjang tiga baris olesan
dengan arah yang sama pada gelas objek.
4.
Olesan
vagina tersebut ditetesi dengan larutan methylen blue 1% sambil sesekali
dimiringkan agar merata dan ditunggu selama 5 menit. Pewarna yang berlebih
dibeersihkan dengan membilas objek menggunakan akuades atau air mengalir
kemudian ditutup dengan gelas penutup.
5.
Gelas
objek diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah hingga kuat. Tipe dan
proporsi sel dalam preparat apusan diperhatikan kemudian fasenya ditentukan.
6.
Bentuk
sel epitel dan leukosit yang tampak pada preparat digambar.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil






(A) (B)
1 2
Keterangan :
Gambar (A): Mikroskopis Siklus
Estrus Fase Metestrus Perbesaran 100 X
Gambar (B): Mikroskopis Siklus
Estrus Fase Metestrus Perbesaran 400 X
Keterangan Gambar :
Keterangan Gambar :
1.
Epitel
terkornifikasi
2. Leukosit
B. Pembahasan
Apus
vagina merupakan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi fase siklus
estrus yang sedang dialami oleh individu betina. Periode antara satu fase
estrus dengan fase estrus berikutnya disebut siklus estrus.Pada dasarnya metode
vaginal smear dapat digunakan pada mamalia non primata, karena mamalia non
primata mengalami fase estrus. Fase-fase estrus pada rodensia mudah dikenali
dengan mengamati sel-sel yang menyusun vagina atau lapisan mukosanya untuk
membuat preparat apus (Storer, 1961).
Siklus
estrus terdiri dari 4 fase yaitu fase proestrus, estrus, metestrus dan
diestrus. Siklus ini dapatdengan mudah diamati dengan melihatperubahan-perubahan
pada sel lapisan epitel penyusunvagina dengan metode apus vagina. Hasilapus
vagina berupa sel epitel berinti, selepitel menanduk (kornifikasi), serta
leukosit.Berdasarkan hasil apus vagina maka terdapat tanda-tanda dari masing-masing
fase yang sedang dialami oleh mencit betina (Novrianti et al., 2014). Sel
epitel berbentuk oval, berinti bulat terletak di tengah. Sel epitel dapat
mengalami perubahan struktur baik secara ukuran maupun keberadaan inti selnya
serta bentuknya. Sel epitel dimana inti sel sudah tidak ada dan mengalami
perubahan bentuk menjadi polygonal disebut sel epitel terkornifikasi (mengalami
penandukan). Leukosit berukuran lebih kecil daripada sel epitel, bentuknya
bulat dengan inti bervariasi bentuk. Setiap fase dalam siklus estrus ditandai
dengan ciri masing-masing, terkhusus pada sel epitel vagina (Hidayati &
Nofianti, 2014).
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, preparat
menunjukkan sel yang terdiri dari sel epitel terkornifikasi diantara sel
leukosit. Hal ini menunjukkan bahwa mencit sedang mengalami fase metestrus (Maric´et al., 2015). Metestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel
menanduk dan leukosit yang banyak. Lamanya fase ini yaitu kurang lebih 8 jam.
Tahap ini di ovarium tampak adanya korpus luteum yang mulai berdegenerasi dan
di uterus dinding endometrium meluruh. Lama tahap ini adalah 6 jam (Adnan,
2006).
Metestrus adalah fase
setelah ovulasi dimana korpus luteum mulai berfungsi. Panjangnya metestrus
dapat tergantung pada panjangnya waktu LTH (Lutetropik Hormon) disekresi
oleh adenohipofisis. Selama periode ini terdapat penurunan estrogen
dan penaikan progesteron yang dibentuk oleh ovarium (Frandson, 1993). Progesteron
menghambat sekresi FSH (Follicle Stimulating Hormone) sehingga menghambat
pembentukan folikel de graaf dan mencegah terjadinya estrus. Selama metestrus
uterus mengadakan persiapan-persiapan untuk menerima dan memberi makan embrio.
Apabila tidak terjadi fertilisasi, uterus dan saluran reproduksi akan beregresi
ke keadaan yang kurang aktif yang sama sebelum proestrus, disebut diestrus
(Johnson dan Everitt, 1988).
Tahap Metestrus merupakan tahapan dimana kadar hormon gonatropin
dalam ovarium menurun akibat tidak terjadi fertilisasi. Sel leukosit yang
hilang mucul kembali. Namun masih ada beberapa sel spitel terkonifikasi dan sel
epitel berinti. Leukosit berukuran lebih kecil daripada
sel epitel, bentuknya bulat dengan inti bervariasi bentuk.25% sedangkan sel
terkornifikasi 75-100%. Fase metestrus ditandai adanya sel terkornifikasi dan
leukosit. Persentase sel terkornifikasi 75-90% sedangkan leukosit 10-25%(Johnson dan Everitt, 1988).
Fase metestrus
dibagi menjadi 2 stadium yaitu stadium 1 yang berlangsung kira-kira 15 jam dan
stadium 2 kira-kira berlangsung selama 6 jam. Pada fase ini umumnya tidak
terjadi perkawinan. Pada fase metestrus dan diestrus, uterus mengalami fase
sekretoris. Pada fase ini, ovarium mengandung corpora lutea dan folikel-folikel
kecil. Fase ini ditandai dengan bertumbuhnya CL dan sel-sel granulosa folikel
dengan cepat yang dipengaruhi oleh LH dari adenohiphofisa (Smith&
Mangkoewidjojo, 1988).Fase metestrus dapat diketahui dengan adanya dominasi
sel-sel tanduk dan sel-sel leukosit jika dilihat dengan menggunakan metode ulas
vagina. Selama metestrus, uterus menjadi agak lunak karena terjadi pengendoran
otot serta melakukan persiapan untuk menerima dan memberi makan embrio (Baker et
al., 1980).
Periode estrus pada hewan terjadi secara berulang dan
membentuk suatu siklus yang disebut siklus estrus. Siklus estrus merupakan
salah satu aspek reproduksi yang menggambarkan perubahan kandungan hormon
reproduksi yang disebabkan oleh aktivitas ovarium dibawah pengaruh hormon
gonadotrophin. Perubahan kandungan hormon reproduksi selanjutnya menyebabkan
perubahan struktur pada jaringan penyusun saluran reproduksi (Narulita et al., 2017).
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas,
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Mencit betina dipegang, ujung cotton bud
yang telah dibasahi dengan larutan NaCl 0,9% dimasukkan ke dalam vagina mencit
sedalam 5 mm, lalu dioleskan pada gelas objek dan ditetesi larutan methylen
blue 1% hingga merata, kemudian ditunggu
selama 5 menit, dibilas dan gelas objek tersebut diamati di bawah mikroskop, sel
yang terlihat ditentukan fasenya dan digambar.
2.
Tipe sel dalam preparat yang telah
diamati adalah leukosit yang berada di
antara sel epitel terkornifikasi.
3.
Fase estrus pada preparat tersebut
adalah fase metestrus.
B.
Saran
1. Sebaiknya
saat praktikum disediakan empat preparat apus vagina yaitu proestrus, estrus,
metestrus, dan diestrus agar lebih
membantu praktikan mengetahui fase-fase estrus pada hewan uji.
4.
DAFTAR REFERENSI
Adnan. 2006. Reproduksi
dan Embriologi. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Johnson, M. H., &
Everitt., 1988. Essential Reproduction. Third Edition. London:
Blackwell Sci. publ.
Storer, T.I. 1961. Element
of Zoology. New York: Mc Graw-Hill Book Company Inc.
Frandson, R. D., 1993. Anatomy and Phisiology of Farm
Animal. Philadelphia: Lea Febigur.
Hidayati, Nur L., & Nofianti, T.,
2014. Penelusuran Potensi
Antifertilitas Buah Takokak (Solanum torvum Swartz) Melalui Skrining
Fitokimia dan Pengaruhnya terhadap Siklus Estrus Tikus Putih (Rattus
norvegicus). Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada, 11(1),pp.94.
Novrianti, E.,
Sumarmin, Nofri Z., & Siska Adelya R., 2014. Pengaruh Ekstrak Biji Kapas (Gossypium
Hirsutum L.) Terhadap Reproduksi Mencit Betina (Mus musculus L.,
Swiss Webster). Jurnal Sainstek,
6(1),
pp.1-16.
Maric´, Z., Peric´,
Kacˇarevic´, Nenad Cˇ, Vatroslav Sˇ, & Radivoje R., 2015. Effects of
Between Generations Changes in Nutrition Type on Vaginal Smear and Serum Lipids
in Sprague–Dawley Rats. The Journal of
Maternal-Fetal & Neonatal Medicine. pp.1-7.
Narulita, E., Prihatin, J., Khoirul A.,
& Fikri Ainur R. H. O., 2017. Perubahan Kadar
Estradiol dan Histologi Uterus Mencit (Mus
musculus) Betina dengan Induksi Progesteron Sintetik. Biosfera, 34(3), pp.117-122.

Komentar
Posting Komentar