Laporan Praktikum Anatomi Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) dan Ikan Lele (Clarias gariepinus)
ANATOMI IKAN NILEM (Osteochilus vittatus) DAN IKAN LELE (Clarias gariepinus)
![]() |
Oleh :
Nama : Ahnisa Mustadhafina
NIM : B1A017144
Rombongan : VIII
Kelompok : 2
Asisten : Lisa Purwandari Rahayu
NIM : B1A017144
Rombongan : VIII
Kelompok : 2
Asisten : Lisa Purwandari Rahayu
LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan adalah hewan berdarah dingin (poikilotermal) yang hidupnya di lingkungan air. Pergerakan dan keseimbangannya dengan menggunakan sirip. Ikan merupakan organisme akuatik yang memiliki organ yang kompleks dan terdiri atas beberapa sistem organ yang saling bekerja sama melakukan aktivitas hidup (Nielsen, 1990).
Ciri khas ikan yaitu mempunyai tulang belakang, insang dan sirip, dan sangat bergantung atas air sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Walaupun ikan umumnya bernapas dengan insang, tetapi ada juga yang dilengkapi dengan labirin yang kerjanya seperti paru-paru. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27.000 di seluruh dunia. (Radiopoetro, 1991).
Tubuh ikan terdiri dari kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (cauda). Kepala dimulai dari mulut sampai batas tutup insang. Badannya bersisik dan dimulai dari belakang tutup insang hingga anus. Ekornya dimulai dari belakang anus hingga ujung sirip ekor (Djuhanda, 1984).
Pada praktikum kali ini, ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus) dijadikan sebagai preparat untuk mewakili species dari Classis Pisces karena cara hidupnya sederhana, harganya murah dan mudah diperoleh. Selain itu ukurannya cukup besar, menunjukkan banyak persamaan dalam bentuk dan fungsi dengan vertebrata tingkat tinggi, serta letak organ-organnya mudah untuk dipelajari (Kodri, 2004).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui morfologi dan anatomi ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus).
II. MATERI DAN CARA KERJA
A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak preparat, gunting, dan pinset.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus).
B. Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah, sebagai berikut :
1. Ikan dimatikan dengan cara kepalanya ditusuk dengan ujung gunting bedah atau lehernya dipatahkan.
2. Ikan dibedah dengan cara digunting dimulai dari depan kloaka, sepanjang garis medio-ventral tubuh ke arah depan sampai dekat sirip dada.
3. Pengguntingan dilanjutkan ke arah tubuh bagian dorsal.
4. Daging ikan pada bagian dorsal digunting menuju ke sirip ekor.
5. Setelah sampai sebelum bagian sirip ekor, daging ikan digunting tegak lurus dengan kloaka.
6. Bagian dalam tubuh ikan diamati.
B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, ikan nilem mempunyai habitus yang terdiri dari caput (kepala), truncus (badan) dan cauda (ekor). Ikan nilem bersisik dan memiliki linea lateralis dari kiri ke kanan yang menghubungkan badan dari depan sampai ujung ekor. Linea lateralis berfungsi untuk mengetahui besarnya arus dalam air. Ikan nilem (Osteochilus vittatus) memiliki sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (abdominal fin), sirip dubur (anal fin), sirip punggung (dorsal fin), dan sirip ekor (caudal fin). Tipe sisik pada ikan nilem berupa cycloid dengan garis-garis melingkar(sirkuler) dan garis-garis radier. Tipe ekor ikan nilem adalah homocerk, jika dilihat dari luar tampak simetri dorso-ventral, sedangkan dilihat dari dalam dibangun oleh tulang-tulang asimetri. Hal tersebut sesuai dengan referensi yang ada (Djuhanda, 1984).
Ikan nilem (Osteochilus vittatus), menurut Nelson (1994) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Super Class : Taleostomi
Class : Actinopterygii
Subclass : Nepterygii
Division : Teleostei
Subdivision : Euteleostei
Superorder : Ostariophysi
Ordo : Cypriniformes
Familia : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Spesies : Osteochilus vittatus
Ikan nilem (Osteochilus vittatus) mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan, sehingga disebut hepatopankreas. Ginjal yang gilik yang terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari darah dalam ginjal akan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui ureter (Jasin,1989).
Ikan jantan dan ikan betina pada ikan nilem dapat dibedakan dengan cara memijit bagian perut ke arah anus. Ikan jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genitalnya. Induk betina yang sudah matang telurnya dicirikan dengan perut yang relatif besar dan lunak bila diraba (Sumantadinata, 1981).
Proses pembedahan ikan nilem dilakukan dengan pengguntingan mulai dari porus urogenitalis, sepanjang garis medioventral tubuh ke arah depan sirip dada. Pengguntingan dilanjutkan ke arah tubuh bagian dorsal lalu arah anterior hingga ke tutup insang dan dilanjutkan pada bagian dorsal dan ventral sampai moncong. Saluran pencernaan ditarik keluar dan direntangkan untuk diamati bagian-bagiannya (Jasin, 1989).
Sistem pencernaan ikan nilem dimulai dari cavum oris, esofagus, kantung empedu, ductus pneumaticus dan limfa. Di dalam tubuhnya dapat terlihat organ pencernaan yaitu usus yang panjang, dikarenakan ikan ini termasuk tipe herbivora. Kantung empedu (vesica felea) yang terletak pada usus bagian depan, berupa kantung bulat hijau kebiru-biruan. Kantung empedu ini berhubungan dengan usus melalui ductus choledochus, lalu saluran akhir pencernaan yaitu anus atau porus urogenitalus (Radiopoetro, 1977).
Alat respirasi yang terdapat pada ikan nilem adalah insang yang terdiri dari empat ruang yang setiap ruangnya terdiri dari dua filamen insang tipis. Selain insang juga terdapat operculum yang berfungsi untuk melindungi insang agar saat udara masuk, tidak bercampur dengan masuknya air yang mengikat oksigen ke rongga mulut. Pada insang terjadi penyaringan oksigen dan pertukaran gas karbon dioksida di dalam darah yang dikeluarkan melalui insang dan suplai oksigen masuk melalui arus air ketika insang terbuka. Oksigen yang telah disaring diedarkan melalui kapiler-kapiler darah yang terdapat pada insang (Storer & Usinger, 1957).
Sistem eksresi pada ikan nilem adalah ren (bagian mesonephros), ureter, vesica urinaria, dan sinus urogenitalis. Sepasang ren yang memanjang sepanjang dinding dorsal abdomen, kanan dan kiri dari linea mediana. Ureter ialah saluran yang keluar dari ren. Selanjutnya, ureter membesar dan membentuk vesica urinaria. Ureter bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Sinus urogenitalis bermuara keluar melalui porus urogenitalis (Noris & Richard, 1987).
Saluran reproduksi ikan jantan, yang disebut vasa deferensia menyalurkan sperma dari tubulus seminiferus ke tubulus anterior ginjal yang berujung pada kloaka. Ujung anterior dari opistonefros primitif melekat pada permukaan testis sebagai lapisan yang disebut epidydimis. Sistem genitalia berfungsi untuk perkelaminan, organ utamanya adalah gonad. Gonad betina disebut ovarium, ada sepasang yang masing-masing berhubungan langsung dengan oviduct. Oviduct yang kiri dan yang kanan di bagian belakang bersatu, kemudian bermuara di porus urogenitalis. Gonad jantan disebut testis, ada sepasang, di dalamnya dibentuk spermatozoid. Masing-masing testis berhubungan dengan ductus deferensia yang pendek, yang kemudian pada bagian belakangnya bersatu dan bermuara di porus urogenitalis. Sebagian besar ikan betina, telur disalurkan dari rongga tubuh oleh sepasang oviduct, tetapi oviduct tersebut mengalami perubahan sesuai dengan cara reproduksinya. (Villee et al., 1988). Pengembangan gonad dari kelompok ikan ini sangat kuat tergantung habitatnya. Meningkatkan frekuensi pemijahan tidak selalu bergantung pada kandungan nutrisi lingkungan, namun juga dengan meningkatkan nutrisi pada makanan ikan dan tambahan suplemen terhadap ikan betina (Setyaningrum et al., 2017).
Tahap larva pada ikan nilem dibedakan menjadi tahap pro-larva dan post-larva. Ciri-ciri pro-larva adalah masih adanya yolk, tubuh transparan dengan beberapa pigmen yang belum diketahui fungsinya, serta adanya sirip dada dan sirip ekor, walaupun bentuknya belum sempurna. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung halus, pada saat tersebut pakan didapatkan dari yolk yang belum habis terserap. Masa post-larva ikan ialah masa dari habisnya yolk sampai terbentuk organ-organ baru atau penyempurnaan organ-organ yang ada. Setelah itu, akan masuk tahap akhir dan larva telah memiliki bentuk tubuh hampir seperti induknya (Yusuf et al., 2014).
Pengamatan yang kedua yaitu ikan lele. Ikan lele (Clarias gariepinus) adalah ikan yang termasuk dalam golongan catfish. Ikan lele mudah beradaptasi meskipun dalam lingkungan yang kritis, misalnya perairan yang kecil kadar oksigennya dan sedikit air. Ikan lele juga termasuk ikan omnivora, yaitu pemakan segala jenis makanan tetapi cenderung pemakan daging atau karnivora. Secara alami, ikan lele bersifat nokturnal, artinya aktif pada malam hari atau lebih menyukai tempat yang gelap (Suyanto, 1991).
Klasifikasi ikan lele (Clarias gariepinus) menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub-phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub-class : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Familia : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus
Ikan lele mempunyai bentuk badan yang berbeda dengan ikan lainnya, sehingga dengan mudah dibedakan dengan jenis-jenis ikan lain. Menurut Astuti (2003), ikan lele memiliki bentuk badan yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik, memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat pernapasan tambahan (arborescent organ). Bagian depan badannya terdapat penampang melintang yang membulat, sedang bagian tengah dan belakang berbentuk pipih.
Tubuh ikan lele tidak memiliki sisik, memiliki kulit berlendir, mempunyai pigmen hitam yang dapat berubah menjadi pucat apabila terkena cahaya matahari, tampak pula alat keseimbangan yang berupa gurat sisi dibagian tengah sisi trunchusnya. Ikan lele mempunyai sirip punggung dan sirip dubur yang memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, mempunyai senjata berupa patil untuk melindungi dirinya dari serangan atau ancaman dari luar. Ikan lele mempunyai sirip punggung (dorsal fin), sirip dubur (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin) yang disebut ekor tidak berpasangan. Sirip dada (pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) disebut sirip berpasangan. Ikan lele tidak mempunyai gelembung renang (vesica metatoria) yang merupakan alat keseimbangan naik turun dalam air, hal ini dikarenakan ikan lele lebih sering berada didasar perairan (Jasin, 1989).
Alat kelamin jantan dan betina pada ikan lele dapat dibedakan dengan mengamati gonadnya. Gonad ikan lele jantan memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran lebih kecil dari pada betinanya. Gonad ikan lele betina berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi (Jasin, 1989).
Pembedahan ikan lele dilakukan dengan pengguntingan dimulai dari kloaka sepanjang garis medioventral tubuh ke arah depan sampai dekat dengan sirip dada. Bagian belahan daging sebelah atas dibuka menggunakan pinset. Pengguntingan dilanjutkan dari anus ke arah tubuh bagian ventral dengan dua arah pengguntingan yang dilanjutkan ke arah anterior sampai ke tutup insang (Jasin, 1989)
Sistem pencernan pada ikan lele (Clarias gariepinus) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring, esofagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan anus. Struktur anatomi mulut ikan lele erat kaitannya dengan caranya mendapatkan makanan. Sungut terdapat disekitar mulut lele yang berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan. Rongga mulut pada ikan lele diselaputi oleh sel-sel penghasil lendir yang mempermudah jalannya makanan ke segmen berikutnya. Rongga mulut ikan lele juga terdapat organ pengecap yang berfungsi untuk menyeleksi makanan. Faring pada ikan berfungsi untuk menyaring makanan yang masuk, karena insang mengarah pada faring maka material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Djuhanda, 1984).
Sistem respirasi utama pada ikan lele (Clarias gariepinus) menggunakan insang yang berada di bagian kepala ikan. Ikan lele juga memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut arborescent, organ yang merupakan membran yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak di dalam ruang sebelah atas insang dan mempunyai fungsi untuk mengikat oksigen ketika berada di tempat yang memiliki konsentrasi air yang sedikit, misalnya pada saat di dalam lumpur (Suyanto, 1991).
Organ utama pada sistem ekskresi ikan lele (Clarias gariepinus) adalah ginjal. Urin yang dihasilkan ginjal disalirkan melalui ureter yang berjalan di pinggiran rongga-rongga abdomen sebelah dorsal menuju ke belakang. Ureter yang kiri dan yang kanan bertemu di bagian belakang menjadi kantong urin (vesica urinaria), lalu dikeluarkan melalui uretra yang bermuara di anus (Radiopoetro, 1991).
Sistem reproduksi pada ikan lele jantan terdapat sepasang testis dan bagian luar tampak klasper yang bentuknya meruncing berwarna merah dan merupakan alat kelamin yang berfungsi untuk menyalurkan sperma keluar tubuh. Ikan lele betina pada bagian tubuhnya terdapat ovarium yang berisi butiran-butiran telur yang akan dikeluarkan saat bereproduksi. Ikan lele melakukan fertilisasi eksternal, jadi ikan jantan membuahi telur diluar tubuh induk. Perbedaan ikan lele jantan dan ikan lele betina yaitu pada ikan lele jantan terdapat alat kelamin yang terletak di dekat anusnya, berwarna cerah dan meruncing (klasper), sedangkan alat kelamin ikan lele betina tampak membulat (Kriswantoro, 1986).
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Secara morfologi, ikan nilem mempunyai habitus yang terdiri dari caput (kepala), truncus (badan) dan cauda (ekor). Ikan nilem bersisik, memiliki linea lateralis dan memiliki sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, sirip dubur, sirip punggung, dan sirip ekor.
2. Secara anatomi, ikan nilem memiliki sistem pencernaan yaitu dimulai dari cavum oris, esofagus, kantung empedu, ductus pneumaticus dan limfa. Di dalam tubuhnya terdapat usus yang panjang serta kantung empedu (vesica felea) yang berhubungan dengan usus melalui ductus choledochus. Saluran akhir pencernaan adalah anus. Alat respirasi yang terdapat pada ikan nilem adalah insang yang terdiri dari empat ruang dan setiap ruangnya terdiri dari dua filamen insang tipis. Sistem eksresi pada ikan nilem adalah ren (bagian mesonephros), ureter, vesica urinaria, dan sinus urogenitalis. Saluran reproduksi ikan jantan adalah vasa deferensia dan epidydimis. Gonad jantan disebut testis dan gonad betina disebut ovarium. Keduanya bermuara di porus urogenitalis.
3. Secara morfologi, ikan lele memiliki bentuk badan yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik, memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba, memiliki alat pernapasan tambahan (arborescent organ). Ikan lele mempunyai sirip punggung (dorsal fin), sirip dubur (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin) yang tidak berpasangan serta sirip dada (pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) yang berpasangan.
4. Sistem pencernan pada ikan lele (Clarias gariepinus) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring, esofagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan anus. Sistem respirasi utama pada ikan lele (Clarias gariepinus) menggunakan insang dan alat pernapasan tambahan yang disebut arborescent. Sistem eksresi pada ikan lele adalah ginjal, ureter, kantong urin (vesica urinaria), dan uretra. Sistem reproduksi pada ikan lele jantan terdapat sepasang testis dan ikan lele betina terdapat ovarium.
Astuti, A. B., 2003. Interaksi Pestisida dan Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.). Skripsi. Institut Pertanian Bogor:-Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Djuhanda, T., 1984. Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico
Jasin, M., 1989. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata Untuk Universitas Cetakan Ketiga. Surabaya: Sinar Wijaya.
Kriswantoro, M. 1986. Mengenal ikan Air Tawar. Jakarta: Karya Bani.
Kodri, Ghufar. H., 2004. Budidaya Lele Keli. Jakarta: PT.Rineka Cipta dan PT Bina Adiaksara.
Kriswantoro, M., 1986. MengenalIkan Air Tawar. Jakarta: Karya Bani.
Nelson, Js., 1994. Fishes of the World. Third Edition. New York: John Wiley & Sons inc
Nielsen, K., 1990. Animal Physiologi-Adaptation and Enviroment Fourth Edition.Cambridge: Cambridge University.
Norris, David, & Richard, E. J., 1987. Hormones and Reproduction in Fishes, Amphibians, and Reptiles. New York and London: Plenum Press
Radiopoetro., 1977. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Radiopoetro., 1991. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Saanin, H., 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Cetakan I. Jakarta: Bina Cipta.
Setyaningrum, N., Sugiharto, & Hidayah, H., 2017. The Gonad Maturity of Female Osteochillus vittatus in the presence of Ascorbic Acid. Biosaintifika, 9(2), pp 257-264.
Storer & Usinger. 1957. Element of Zoology. USA: Hill Company inc.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangan Ikan-Ikan Peliharaan Di Indonesia. Jakarta: Sastra Hudaya.
Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ville, C. A., W. F. Walker & R. D. Barries. 1988. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga
Yusuf, D., Sugiharto, Wijayanti, G., 2014. Perkembangan Post-larva Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V. dengan Pola Pemberian Pakan Berbeda. Scripta Biologica. 1(3), pp 185–192.

Komentar
Posting Komentar